peralatan navigasi, bandar udara, rahmat tandi

Loading...

Selamat Datang.dan Selamat berfantasi di Blog ini

Bagi teman teman yang menginginkan data - data kebandar udaraan.perlatan navigasi silahkan mencari dalam blog ini.apabila tidak menemukan data teknis yang di inginkan silahkan ketik saran.demi kelengkapan blog kami ini.trimakasih

Senin, 22 Februari 2010

bagian bagian Aerodrome.instrument.bandar udara,pembagian kerja bandar udara

A. Pengetahuan Dasar Bandar Udara (Basic Aerodrome Of Sciences)
A. Defenisi Bandar Udara (Definition Of Aerodrome)
B. Fisik Karakteristik Bandar Udara (Physical Characteristic of Aerodrome)
C. Daerah Lingkungan Kerja Bandar Udara.
D. Alat Bantu Pendaratan Visual (Visual Aid for Navigation)
E. Marka atau Rambu
F. Taxiway lighting and Threshold lighting
G. Lokasi Bandar Udara (Location of Aerodrome)
H. Alat Bantu yang menunjukkan rintangan (visual Aids for Denoting Obstucle).



B. Pengantar Bandar Udara
Dalam Pengantar Bandar Udara ini akan diberikan beberapa pengertian-pengertian yang erat kaitannya dengan urutan-urutan tersebut diatas sehingga memudahkan bagi peserta untuk memahami pengertian-pengertian dimaksud antara lain :
AERODROME :
Ialah daerah tertentu didaratan atau di perairan, termasuk sebuah bangunan, instalasi, dan peralatan yang semuanya atau sebagian digunakan untuk melayani kedatangan dan keberangkatan pesawat udara.
AERODROME REFERENCE POINT :
Ialah lokasi / geografis / titik tertentu pada Bandar Udara yang menunjukkan lokasi Bandara Udara tersebut.
AEROPLANE REFERENCE FIELD LENGTH (ARFL)
Ialah panjang landasan pacu minimum yang dibutuhkan untuk lepas landas pada keadaan maximum certificated take off weigh, sea level, standard atmospheric condition, (elevasi 0 M/atau hanya puluhan meter, 150 – 760 mm Hg, angin tenang, slope 0 %)
AIRCRAFT CLASSIFICATION NUMBER (A.C.N) :
Ialah angka yang menunjukkan dampak relatif suatu pesawat terbang terhadap konstruksi perkerasan pada suatu kategori standard khas dari suatu sub grade.

APRON :
Ialah daerah tertentu pada suatu Bandar Udara dimaksudkan untuk melayani keperluan pesawat terbang dalam hal naik turunnya penumpang bongkar muat muatan (barang dan pos), pengisian bahan bakar, parkir atau perawatan.
BALANCE FIELD LENGTH :
Suatu konsep pemilihan panjang landasan pacu yang diperlukan oleh suatu pesawat terbang dengan kecepatan kritis (VI) tertentu, sedemikian sehingga panjang landasan pacu yang diperkeras mencakupi untuk pesawat terbang tinggal landas sampai ketinggian 35 feet dan keseluruhan landasan pacu termasuk stopway mencakupi untuk berhentinya pesawat dengan aman seandainya gagal untuk tinggal landas.
CLEARWAY :
Daerah berbentuk persegi panjang dibawah pengawasan Bandar Udara dimaksudkan sebagai suatu daerah bebas hambatan yang memungkinkan pesawat terbang sebagai hambatan yang memungkinkan pesawat terbang melakukan sebagian usaha pendakian setelah tinggal landas sampai suatu ketinggian tertentu.
DECLARED DISTANCE :
Suatu jarak yang ditetapkan /diperhitungkan dari suatu landas pacu untuk kedua ujungnya, meliputi :
TORA (Take Off Run Available), yaitu panjang landas pacu yang tersedia mencakupi untuk melaju di landasan (ground Run) pada saat tinggal landas.
TODA (Take off Distance Available), panjang landas pacu yang tersedia / mencakupi untuk melaju didaratan / landasan sampai ketinggian tertentu (35 feet), dan jika landas pacu dilengkapi dengan clearway maka TODA menjadi = TCRA + Clearway.
ASDA (Accelerate Stop Distance Available), yaitu panjang landas pacu yang tersedia untuk melaju sejak pesawat mulai bergerak melaju, batal tinggal landas, direm dan berhenti dengan aman, dan jika landasan pacu dilengkapi dengan stopway maka ASDA menjadi TORA + Stopway.
LDA (Landing Distance Availble), yaitu panjang landas pacu yang dinyatakan tersedia /mencakupi untuk pendaratan pesawat terbang dalam gerak melaju di landasan pacu sampai berhenti dengan aman.
INSTRUMEN RUNWAY :
Landasan pacu yang dilengkapi dengan peralatan/instrumen penuntun pendaratan pesawat terbang, terdiri dari :
a. Non Precission Approach Runway (NPAR), yaitu landasan pacu dengan pelayanan alat bantu visual dan non visual dilengkapi paling tidak dengan pembimbing arah yang memadai untuk pendekatan (Straight in apporoach)
b. Precission Approach Runway (PAR) Category I, yaitu landasan pacu dengan pelayanan ILS (Instrumen Landing System) dan alat bantu visual dimaksudkan untuk operasi bimbingan pendaratan/pendekatan sampai dengan ketinggian (decision height) 60 M dan RVR (Runway Visual Range) sejarak 800 M.
c. Precession Approach Runway (PAR) Category II, yaitu seperti pada Category I, akan tetapi dengan decision height 30 M dan RVR sejarak 400 M
d. Precission Approach Runway (PAR) Category III, yaitu landasan pacu dengan pelayanan ILS kearah dan sepanjang permukaan landasan pacu (tanpa suatu decision height yang digunakan) dengan lebih terperinci lagi sebagai berikut :
Ø CAT III A, dimaksudkan untuk operasi bimbingan pendaratan sampai dengan jarak RVR 200 M kemudian menggunakan alat bantu visual selama tahap akhir pendaratan.
Ø CAT III B, dimaksudkan untuk operasi bimbingan pendaratan sampai dengan jarak RVR 50 M untuk taxiing.
Ø CAT III C, dimaksudkan untuk operasi bimbingan pendaratan yang tidak lagi berpedoman/mempercayakan pada alat (bantuan) visual, baik untuk pendaratan maupun taxing.


MARKER :
Suatu obyek yang dipasang/ditunjukkan diatas tanah (ground level) yang memberikan petunjuk/indikasi suatu obstacle atau menggambarkan suatu batas.
MARKING :
Suatu tanda atau kelompok tanda-tanda yang dipasang/ditunjukkan pada permukaan tanah di daerah pergerakan (movement area) untuk memberikan informasi aeronautika.
MOVEMENT AREA :
Bagian dari aerodrome yang digunakan bagi lepas landas, pendaratan dan taxiing pesawat terbang termasuk daerah apron.
NON INSTRUMENT RUNWAY :
Landasan pacu yang dimaksudkan untuk operasi pesawat terbang yang menggunakan prosedure pendekatan (Approach) secara visual.
OBSTUCLE :
Semua obyek yang bergerak ataupun tetap (baik sementara atau permanen) atau sebagian dari itu yang terletak suatu daerah yang dimaksudkan untuk pergerakan pesawat terbang di darat, atau ketinggiannya melebihi suatu permukaan tertentu yang dimaksudkan untuk melindungi pesawat terbang yang sedang terbang.
RUNWAY :
Daerah tertentu berbentuk persegi panjang di lapangan terbang dimaksudkan sebagai daerah lepas landas dan pendaratan pesawat terbang.
PAVEMENT CLASSIFICATION NUMBER (PCN) :
Angka yang menyatakan kekuatan/daya dukung konstruksi perkerasan bagi operasi tanpa suatu pembatasan.
RUNWAY END SAFETY AREA (RESA) :
Daerah yang simetris terhadap perpanjangan sumbu landasan terletak pada ujung (berbatasan dengan) strip landasan, dengan maksud utama untuk mengurangi terjadi overshooting (pendaratan berlebih) atau overrunning (meluncur) dari landasan pacu.
RUNWAY STRIP :
Daerah tertentu termasuk landasan pacu dan stopway (jika ada) dimaksudkan untuk :
a. Mengurangi resiko kerusakan pesawat dalam hal terjadi meleset keluar dari landasan pacu.
b. Melindungi pesawat yang terbang selama operasi pendaratan atau tinggi landas terhadap rintangan.
RUNWAY VISUAL RANGE :
Suatu jarak dimana pilot yang berada didalam pesawat pada/diatas sumbu atau perpanjangan sumbu landasan dapat melihat rambu-rambu landasan atau nyala lampu yang memberikan gambaran landas pacu atau yang mengidentifikasikan suatu landas pacu.


SHOULDER :
Daerah yang berdekatan/berbatasan dengan tepi konstruksi perkerasan yang dipersiapkan sebagai peralihan antara daerah perkerasan dengan daerah didekatnya/bersebelahan.
STOPWAY :
Daerah tertentu berbentuk persegi panjang pada ujung landas pacu (TORA) yang disiapkan sebagai daerah yang memadai untuk menghentikan pesawat adalah pesawat gagal tinggal landas kemudian meluncur.

TAXIWAY (JALAN PESAWAT)
Jalan lintas tertentu di lapangan terbang diperuntukkan bagi melintasnya pesawat (Taxiing, pergerakan di darat) dan dimaksudkan sebagai daerah kelengkapan hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya di lapangan terbang termasuk :
a. Aircraft Stand Taxilance : sebagian dari apron yang diperuntukkan sebagai taxiway dan dimaksudkan hanya untuk lintasan ke aircraft stand (tempat pemberhentian pesawat).
b. Apron Taxiway : sebagian dari system yang terletak di apron dan dimaksudkan untuk jalur taxi langsung melintasi apron.
c. Rapid Exit Taxiway : Taxiway yang menyambung ke landasan pacu dengan sudut tertentu dan diperuntukkan bagi pesawat yang mendarat atau berbelok langsung ke taxiway tersebut masih dalam kecepatan tinggi tanpa perlu mencapai exit taxiway yang berikutnya, dengan demikian mengurai Runway Occupancy Time (masa tinggal di landasan pacu)
THRESHOLD (AMBANG LANDASAN PACU)
Bagian awal, pangkal dari landasan pacu yang dapat digunakan untuk pendaratan.
Dari beberapa pengertian tersebut diatas merupakan kelengkapan pengertian yang masih relevan dengan pokok bahasan yang akan digunakan sebagai referensi yang secara berkesinambungan terhadap pembahasan materi.
BANDAR UDARA

A. Defenisi Bandara Udara (Definition Of Aerodrome)
Bandar Udara (Aerodrome) : ialah daerah tertentu di daratan atau di perairan, termasuk semua Bangunan, Instalasi, dan Peralatan yang semuanya atau sebagian digunakan untuk melayani kedatangan dan keberangkatan pesawat udara.
Dengan defenisi tersebut diatas maka dapat dijabarkan Bandar Udara secara terperinci diuraikan sebagai berikut :
Ø Harus jelas lokasi yang akan dipergunakan (di daratan atau di perairan).
Ø Kemudian harus ada sarana dan prasarana yang meliputi (Bangunan; Instalasi; dan Peralatan).
Ø Kegunaan dan manfaat dari Bandar Udara itu sendiri (Melayani kedatangan dan keberangkatan pesawat udara).
Dari penjabaran tersebut maka selanjutnya mari kita kaji satu persatu point diatas :
1. Fasilitas Bangunan
Fasilitas Bangunan yang berada di suatu lingkungan Bandar Udara dibagi menjadi :

a. Bangunan Operasi
Bangunan yang dipergunakan untuk menunjang kelancaran operasi keselamatan penerbangan, yang termasuk dalam bangunan ini meliputi antara lain :
· Gedung Operasi
· Control tower
· Garasi PKP-PK
· Bangunan Instalasi Listrik
· Bangunan / Gedung Telnav (Telekomunikasi dan Navigasi).
b. Bangunan Umum
Bangunan yang tidak termasuk bangunan operasi (tidak menunjang kegiatan operasional), yang termasuk dalam bangunan ini adalah :
· Perumahan Pegawai/Karyawan dan Karyawati Bandar Udara.
· Poliklinik
· Gudang Barang
· Peralatan Menara air.
c. Bangunan Terminal
Bangunan atau gedung untuk keperluan pelayanan penumpang, barang, dan pos yang datang dan diberangkatkan dengan pesawat udara, yang termasuk dalam bangunan in meliputi :
· Ruang tunggu
· Ruang kedatangan
· Check-In
· Informasi dll
2. Fasilitas Instalasi
Fasilitas Instalasi di suatu Bandar Udara dapat dikelompokkan meliputi :
a. Instalasi Telekomunikasi
Semua peralatan elektronika/mekanik yang dipasang didaratan, dipergunakan untuk hubungan jarak jauh dengan cara timbal balik darat ke darat, dan darat ke udara, dan yang didalamnya Instalasi Telekomunikasi ini antara lain :
# AFTN (Aeronautical Fixed Telecommunication Network)
# VHF (Very High Frequency)
# AMS (Aeronautical Mobile Service)
# SSB (Single Side Band)
# AFS (Aeronautical Fixed Service)
b. Instalasi Navigasi/Perambuan
Semua peralatan elektronika/mekanik yang dipasang didaratan, dipergunakan untuk menuntun dan memandu pesawat terbang menuju kearah titik posisi tertentu melalui hubungan searah atau timbal balik, instalasi dimaksud dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Ø DME (Directional Measuring Equipment)
Ø ILS (Instrumen Landing System)
Ø NDB (Non Directional Beacon)
Ø VOR (Very High Frequency Omny Range)
c. Instalasi Listrik
Peralatan yang dipasang didaratan sebagai pembangkit tenaga listrik dan sumber daya listrik, instalasi listrik, untuk menunjang kegiatan operasi keselamatan penerbangan dan operasi Bandar Udara, yang termasuk didalam instalasi listrik adalah :
ü Hazard Beacon
ü Obstruction Light
ü Rotating Beacon
ü Approach Light
ü Vasi
ü Papi
ü Reil
ü Threshold Light
ü Illuminated Landing T
ü Illuminated wind cone
3. Fasilitas Peralatan
a. Peralatan Tower
Semua peralatan elektronika yang dipergunakan untuk hubungan timbal balik dengan pesawat terbang melalui frekuensi radio
darat ke udara yang masih dalam lingkup pengawasannya.
b. Peralatan Communication Centre
Peralatan yang dipergunakan untuk merubah gelombang radio teletype menjadi arus searah dalam hubungan antar stasiun darat secara timbal balik.
c. Peralatan Terminal
Peralatan yang menunjang pelayanan terhadap penumpang, barang. Pos yang akan datang dan diberangkatkan dengan pesawat terbang.
d. Peralatan Alat-Alat Berat
Alat-alat yang dipergunakan untuk membangun dan memelihara lapangan terbang yang terdiri ; Bolduzer; AMP (Asphalt Mixer Processing); alat pemotong rumput; Finisher; roller; stone chrusher; tractor; tipper; crane & sweaper.




PEMBAGIAN AERODROME
(Fisik Karakteristik Bandar Udara)


A. Fisik Karakteristik Bandar Udara (Physical Characteristic Of Aerodrome)
Fisik Karakteristik Bandar Udara dikelompokkan menjadi :
1. Menentukan tata letak dan Nomor Landasan (Number and Orientation of Runways).
2. Tempat Ambang Landasan (Location Of Threshold)
3. Panjang nyata landasan (Actual Length of the Runway)
4. Lebar Landasan (Width of Runway)
5. Pemisahan landasan sejajar (Separation Of Parallel Runways)
6. Kemiringan landasan (Slopes of Runways)
7. Kekuatan landasan (Strength of Runways)
8. Permukaan landasan (Surface of Runways)

1. Menentukan tata letak dan (Number and Orientation of Runways)
Pedoman untuk menentukan tata letak dan Nomor landasan (R/W), akan dipengaruhi oleh beberapa faktor a.I :
a. Pembagian maximum angin (Wind distribution)
b. Ukuran berat pesawat terbang
c. Konfigurasi sayap
d. Kondisi perkerasan (Pavement)
Dari faktor-faktor tersebut diatas yang dominan adalah angin (Wind distribution), sehingga pesawat terbang dapat mendarat atau tinggal landas pada Bandar Udara 95 % dari Component Cross Wind tidak boleh melebihi :
Ø 20 knot (37 Km/jam) dengan ARFL 1500 meter.
Ø 13 knot (24 Km/jam) dengan ARFL 1200 s/d 1499 meter.
Ø 10 knot (19 Km/jam) dengan ARFL 1200 meter.
2. Tempat Ambang Landasan (Location Of Threshold)
Bila tempat ambang landasan (Location Of Threshold) perlu dipertimbangkan untuk pemindahan sebagai alternative secara efisien sehingga dapat dipergunakan secara aman dengan jarak 60 meter dari lokasi threshold.
3. Panjang nyata landasan (Actual Length of the Runway)
Panjang landasan pacu dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
a. Pesawat terbang yang akan dilayani (Critical Aircraft)
b. Jarak non stop terjauh yang diharapkan akan diterbangi oleh pesawat terbang paling sedikit sebanyak 250 kali/tahun.
c. Elevansi Bandar Udara diatas permukaan laut
d. Temperatur rata-rata harian tertinggi dari bulan-bulan terpanas
e. MTOW Maximum Take Off Weight Pesawat terbang.


Penentuan Aerodrome Reference Code
No
ARFL
KODE
HURUF
LEBAR SAYAP
JARAK TERLUAR
RODA PSWT
1
Kurang dari 800 Meter
A
Sampai 15 Meter
Sampai 4,5 Meter
2
800 – 1200 Meter
B
15 – 24 Meter
4,5 – 6 Meter
3
1200 – 1800 Meter
C
24 – 36 Meter
6 – 9 Meter
4
1800 – Meter dstnya
D
36 – 52 Meter
52 – 60 Meter
9 – 14 Meter
9 – 14 <>> lihat gambar
3. Parallel Taxiway, terdiri dari lima Taxiway yang merupakan penghubung antara R/W dengan apron, jalurnya melintang terhadap landasan pacu (R/W) dan juga terdapat jalur yang sejajar dengan landasan pacu (R/W)
4. High speed Exit Taxiway, terdiri dari enam taxiway yang merupakan penghubung antara R/W dengan apron, jalurnya melintang terhadap landasan pacu (R/W) dan juga terdapat jalur yang sejajar dengan landasan pacu (R/W) >> lihat gambar



Threshold lighting
Threshold lighting rambu penerangan yang berfungsi sebagai alat Bantu pendaratan. Dipasang pada garis ambang runway dan perpanjangannya pada jarak tertentu. Dengan menggunakan filter hijau dan merah. Threshold lighting memancarkan cahaya hijau atau merah jika dilihat oleh penerbang yang akan mendarat, dan memancarkan warna hijau atau merah apabila dilihat oleh penerbang yang akan tinggal landas. Threshold lighting memberi informasi kepada penerbang bahwa pada garis itulah berawal atau berakhir.

B. Lokasi Bandar Udara (Aerodrome Location)
Lokasi Bandar Udara (Location Aerodrome) ini sasaran kepada ARP (Aerodrome Reference Point), maka dapat dijelaskan ARP berlokasi pada suatu tempat/titik dekat atau pada titik pusat Bandar Udara yang bersangkutan.
a. Aerodrome Reference Point (ARP) diukur dan ditetapkan “longitude” ataupun “Latitudenya” sampai titik pusat Bandar Udara yang bersangkutan.
b. Aerodrome Reference Point (ARP) dikaitkan dengan Aerodrome Code Number (ACN) maka lebih jelas dapat dijelaskan.
Ketentuan pemberian nomor landasan (Runway Number), Azimuth Runway dibulatkan menjadi puluhan seperti dibawah ini :
10 20 30 40 -----® dibulatkan menjadi kebawah (1420 menjadi 1400)
50 60 70 80 90 -----® dibulatkan menjadi keatas (1420 menjadi 1400)
Contoh :
Azimuth R/W 1350 dibulatkan menjadi 1400 maka nomor R/W dari 1400 menjadi R/W 14, sehingga nomor runway yang berpasangan (berlawanan arah) menjadi + 1800 -----® 1400 + 1800 = 3200


KARAKTERISTIK DAN FISIK BANDAR UDARA

Untuk mengetahui tentang kritria dan fisik landasan pacu (R/W) [erhatikan beberapa kriteria, antara lain :
1). Fungsi dan tujuan :
a. Sebagai pelindung landasan (Landasan Pacu; taxiway; apron dan lainnya) baik terhadap beban lalu lintas atau pengaruh air (air hujan) perubahan/kerusakan serta bersifat tahan lama.
b. Memberikan kenyamanan terhadap lalu lintas yang melewati serta memungkinkan mendukung beban yang lebih besar dibandingkan tanpa perkerasan.
2). Unsur-Unsur yang diperhitungkan
a. Karakteristik tanah dasar (Sub Grade),biasanya disimpulkan dalam skala angka kekuatan dukung yaitu CBR (California Bearing Ratio) yaitu suatu angka perbandingan kekerasan suatu material terhadap material standar/granit dalam satuan prosen) atau “k” (modulus of sub grade reection; hubungan antara nilai beban/tekanan dengan besarnya penurunan yang terjadi akibat beban tersebut melalui sebuah pelat tertentu terhadap tanah yang dicari nilainya/diteliti).
b. Beban yang direncanakan, yaitu beban yang dihasilkan pesawat terbang terbesar (critical aircraft).
c. Repetisi atau jumlah lintas perkiraan yang akan terjadi.
3). Jenis-jenis perkerasan landasan pacu (R/W)
a. Flexible Favement
Terdiri dari bahan/material yang mengandung bituminous/aspal pada permukaannya, sedangkan struktur secara keseluruhan biasanya terdiri dari lapisan-lapisan sub grade (tanah dasar); Sub Base (fundamental); Base; dan surface /permukaan.
Pemilihan jenis material pada setiap lapisan dibuat sedemikian sehingga semakin keatas nilai CBRnya makin besar, misalnya sub base dari bahan pasir atau pasir batu, base dari batu pecah berbagai ukuran diikat dengan aspal.
Perkerasan ini disebut “flexible” (kenyal) karena meskipun tidak tampak dengan mata telamjang, terjadi kembang susut pada struktur perkerasaan pada saat dibebani dan sat tidak dibebani.
b. Rigit Pavement
Dibuat dari beton semen dan disebut “rigit” (kaku) karena seluruh beban yang terjadi sama sekali ditampung oleh pekat beton semen tanpa terjadi suatu perubahan pada pelat beton tersebut, dan beban tersebut diteruskan ke tanah dalam gaya yang jauh menjadi sangat kecil.


c. Cakar Ayam
Dibuat dari beton semen bertulang dalam suatu kesatuan pelat yang luas yang menyatu dengan sumuran-sumuran yang berfungsi sebagai cakar.
Pada dasarnya kesatuan perkerasan ini bersifat kaku, tetapi pada saat dibebani akan turun secara bersama-sama atau “tenggelam ke dalam tanah dasar dan kembali kedudukan semula pada saat tidak dibebani”.
Hal ini memang terjadi karena konstruksi cakar ayam yang dibuat oleh seorang terapung pada lapisan tanah yang kurang keras (lembek).
4). Penilaian Kekuatan
Untuk landasan pacu yang melayani pesawat terbang dengan bobot lebih dari 5700 Kg, digunakan penilaian CAN-PCN yaitu niai perbandingan antara Pavement Clasification Number dengan Aircraft Clasification number.
CAN nilainya diterbitkan/dideclare oleh pabrik yang bersangkutan PCN dinyatakan dengan menyebutkan nilai angka PCN, jenis perkerasan, kekuatan daya dukung sub grate, tekanan ban roda pendaratan maximum, metoda yang diambil untuk mendapatkan nilai angka PCN tersebut:
Sebagai contoh Bandar Udara Sentani:

KETERANGAN : 25 F/B/Y/U
25 : Nilai angka yang didapatkan dengan menggunakan rumus tertentu dari berbagai parameter/data antara lain nilai CBR, tebal perkerasan.
F : Jenis perkerasan.
Y : Kategori tekanan maksimum yang diijinkan dari roda pendaratan yaitu 1 Mpa, kategori lainnya adalah W; X; dan Z.
B : Kategori daya dukung sub grade yaitu nilai CBR antara 8% s/d 13%, kategori lain adalah A, C, dan D.
U : Metode evaluasi yaitu Using Aircraft Experience, metoda lain adalah T (Technical Evaluation) yang menggunakan teknologi/perhitugan tinggi dalam penelitian khusus karakteristik perkerasan.
Selain penilaian CAN-PCN terdapat juga penilaian Load Clasificatioan number (LCN) yang masih digunakan dibeberapa temapt di dunia prinsipnya sama dengan CAN-PCN.

FASILITAS KESELAMATAN PENERBANGAN

A. Alat Bantu yang Menunjukkan Rintangan (Visual Aids For Obstucle)
Semua bangunan tetap atau proyek/benda yang bergerak (kendaraan, orang, dan binatang) yang berada di suatu pergerakan pesawat terbang.
Untuk mengidentifikasi suatu obyek yang dianggap dapat menjadikan penyebab halangan/rintangan di daerah pergerakan pesawat terbang biasanya diberikan tanda atau isyarat dengan lampu yang berwarna kontras putih; merah kuning dan orange.
Pemberian tanda atau isyarat terhadap benda atau obyek yang diam biasanya diberikan lampu warna merah dengan menyala secara terus menerus atau terputus-putus (Flashing on-off).
Pada obyek/benda yang diam, karena ketinggiannya, sehingga mengganggu kelancaran operasi penerbangan, maka harus diberikan tanda atau isyarat :
a. Tiang antena; menara air diberi tanda lampu merah dengan menyala terus menerus disebut dengan istilah Obstruction Light.
b. Pada gunung-gunung yang terletak di daerah pergerakan pesawat terbang karena ketinggiannya, maka dipasang/diberi lampu warna merah menyala secara terputus-putus (on-off flashing).


Pada obyek/benda yang bergerak antara lain :
a. Mobil/kendaraan-kendaraan dinas yang beroperasi di daerah movement area diberi tanda kuning
b. Untuk kendaraan yang dalam keadaan darurat/emergency diberikan warna yang sangat mencolok yaitu warna merah.
Persyaratan lain penempatan tanda/isyarat baik terhadap benda yang diam maupun bergerak harus kelihatan dari semua arah, sekurang-kurangnya mempunyai jarak pandang kurang lebih sampai 300 meter.
Bila pemberian tanda terhadap obyek/benda selain menggunakan lampu, sebagai alternative lain dapat digunakan “bendera” dengan ketentuan :
- Untuk obyek yang diam (Fixed Obyek)
Berwarna orange atau kombinasi orange putih dan merah putih
- Untuk obyek yang bergerak (Mobile Obyek)
Dibuat kotak-kotak (seperti papan catur) warna orange putih atau merah putih.

Alat bantu yang menunjukkan Batasan (Visual Aids for Denoting Restricted).
Bantuan berdasarkan penglihatan (Visual aid, terhadap daerah terlarang (Restricted Area) :



“CLOSE RUNWAY AND TAXIWAY”


SILANG WARNA PUTIH DAN KUNING




TANDA SILANG DENGAN WARNA KUNING DENGAN DASAR BUJUR SANGKAR MERAH DILETAKKAN DI SIGNAL AREA, ARTINYA LARANGAN UNTUK MENDARAT DAN KEMUNGKINAN LARANGAN TERSEBUT DAPAT DIPERPANJANG

TANDA SILANG WARNA KUNING DENGAN DASAR MERAH DILETAKKAN DI SIGNAL AREA, BERARTI AGAR BERHATI-HATI PADA SAAT MENDARAT DIKARENAKAN ADANYA KERUSAKAN DIMANUVERING AREA

DUMB BELL WARNA PUTIH DENGAN GARIS PUTIH DILETAKKAN DI SIGNAL AREA, BERARTI TAKE OFF LANDING DAN TAXIING HANYA DAPAT DILAKSANAKAN DI RUNWAY DAN TAXIWAY SAJA.

DUMB BELL WARNA PUTIH DENGAN GARIS HITAM VERTICAL, KUNING TEGAK LURUS PADA POROSNYA DILETAKKAN DI SEGNAL AREA BERARTI TAKE, LANDING DAN TAXIING DAPAT DILAKSANAKAN TIDAK TERBATAS RUNWAY DAN TAXIWAY SAJA.

TANDA SILANG WARNA PUTIH ATAU KUNING DILETAKKAN HORIZONTAL PADA SUATU R/W DAN T/W, BERARTI MENYATAKAN BAHWA DAERAH TERSEBUT TAK DAPAT DIPERGUNAKAN.

TANDA HURUF C HITAM DASAR KUNING DILETAKKAN VERTICAL DI DINDING SUATU GEDUNG, BERARTI AIR TRAFFIC REPORTING OFFICE

LANDING T WARNA PUTIH ATAU ORANGE DILETAKKAN DI SIGNAL AREA, BERARTI MENUNJUKKAN ARAH PENDARATAN (LANDING)


WIND SOCK (KANTONG ANGIN) OR IN CONE OR WIND SLEVE (KERUCUT ANGIN) BERARTI UNTUK MENGETAHUI / MENUNJUKKAN ARAH DAN KECEPATAN ANGIN


B. Fasilitas Navigasi Udara
1. Fasilitas Navigasi Udara NDB ( Non Directional Beacon )
a. Fasilitas Navigasi
Jenis ini yang terpasang dalam stasiun NDB ditanah,memancarkan informasi dalam bentuk sinyal radio ke segala arah ( Non Directional). Pemancar ini biasanya beroperasi pada frekwensi 200-415 KHz dan secara terus menerus memancarkan frekwensi pembawa dengan modulasi 1020 Hz untuk Identifikasi dengan kode morse yang terdiri dari 2 atau 3 huruf dan kiriman dengan kecepatan rata-rata 7 kata permenit.
b. Klasifikasi
Makin besar kekuatan pancaran NDB,makin besar pula daerah cakup NDB tersebut.
Type dan pancaran NDB dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Low Range
2. Medium Range
3. High Range
c. Fungsi dan kegunaan
NDB mempunyai beberapa macam fungsi kegunaan yaitu :
1.Homing
2.En-Route
3.Holding
4.Locater

2. Fasilitas Navigasi Udara VOR (VHF Omni Directional Range)
a. VOR merupakan
Alat Bantu navigasi jarak sedang, yang bekerja menggunakan frekwensi radio sangat tinggi (VHF). Dengan station VOR yang diletakkan sedemikian rupa, VOR dapat digunakan untuk menuntun suatu pesawat menuju ke suatu Bandar Udara. Posisi pesawat terbang tiap saat ditentukan oleh penerbang dengan bantuan VOR dan DME.
b. Manfaat bagi Penerbang
Perlengkan penerima VOR di Pesawat Terbang mempunyai 3 macam fungsi atau indikator :
1. Untuk menentukan Azimut
2. Untuk menunjukkan deviasi kepada pilot
3. Menunjukkan arah Pesawat Terbang menuju atau meninggalkan station VOR

c. Fungsi dan Kegunaan VOR
Seperti halnya NDB, maka VOR pun mempunyai fungsi yang sama.
d. Kegunaan VOR terhadap NDB
VOR bekerja pada frekwensi VHF antara 108-118 MHz sehingga informasi yang dipancarkan tidak terganggu oleh keadaan cuaca, berbeda dengan NDB yang dipergunakan frekwensi rendah/LF.
e. VOR di Indonesia
Ada 2 jenis VOR yang telah terpasang di Indonesia,yaitu :
a. C-VOR (Convensional-VOR)
b. D-VOR (Doppler-VOR)
3. Fasilitas Navigasi DME (Distance Measuri Equipment)
a. Fasilitas DME
Biasanya dipasang melengkapi VOR untuk memberikan informasi kepada penerbang tentang jarak pesawat terbang terhadap DME.Bekerja pada bidang Ultra High Frequensi (UHF) antara 960 MHz-1215 MHz,sehingga pancarannya tidak tergantung dari keadaan cuaca.
b. Fungsi kegunaannya
DME biasanya dipasang pada station VOR untuk melengkapinya (Komplementer) sehingga posisi pesawat terbang secara teliti dapat terus menerus diketahui para penerbang.DME memberikan Informasi jarak dalam Nm, sesuai dengan koordinat polar dalam penentuan posisi pesawat terbang.
4. Fasilitas Navigasi Udara ILS (Instrument Landing System)
a. Fasilitas ILS
Dipasang untuk membantu pendaratan pesawat dengan tepat terutama pada saat-saat cuaca jelek. Peralatan ditanah terdiri dari dua jenis pemancar yaitu “Localizer yang bekerja pada frekweansi 108,4 MHz-112 MHz dan Glide Slope bekerja pada frekwensi 329,15 MHz-335,00 MHz”. Marker Beacon seperti Auter Marker, Middle Marker, Inner Marker. Bekerja pada frekwensi 75 MHz.
b. Fungsi kegunaannya
Dengan bantuan ILS, pilot dapat mendaratkan pesawat terbangnya dengan berpedoman pada indikator-indikator di pesawat yang menerima sinyal-sinyal dari ILS.Pendaratan dapat dilakukan dengan baik,walaupun visibility (Daya lihat/Jarak pandang) sangat rendah karena pengaruh cuaca.ada beberapa tingkatan ketelitian dari pada ILS yang dinyatakan dalam kategori yaitu I , II , III.

5. Fasilitas Navigasi Udara RADAR (Radio Deteksi And Ranging)
a. Radar merupakan
Suatu cara dimana gelombang radio yang dipancrkan ke angkasa akan diterima kembali setelah suatu benda di angkasa menyebabkan pantulan atau refleksi ketika gelombang radio tersebut mengenainya.Radar ada beberapa macam dan yang umum yang dipergunakan pada Bandar Udara adalah :
1. 1.Primary Surveillince Radar (PSR)
2. 2.Secondary Surveillince Radar (SSR)
b. Fungsi dan Kegunaannya
Kedua jenis radar tersebut mempunyai cara kerja yang berbeda.PSR bersifat aktif dan pesawat yang ditargetkan sifatnya pasif karena PSR hanya menerima pantulan gelombang radio reflesi pesawat tersebut (ECHO), sedangkan pesawat itu sendiri tidak tau menahu dengan kegiatan dari arah bawah.pada SSR, kedua-duanya aktif baik radar dibawah maupun pesawat terbang.hal ini dapat dilakukan karena pesawat terbang dilengkapi dengan pemancar yang disebut Transponder.
6. Fasilitas Navigasi Udara RVR (Runway Visual Range)
a. RVR adalah
Alat untuk memperoleh Informasi Meteorologi yaitu visibility di daerah sekitar landasan.ILS dibagi dalam 3 kategori yaitu :
1. ILS Category I
2. ILS Category II
3. ILS Category III
b. Macam peralatan dan cara kerja
RVR sistem ini terdiri dari beberapa peralatan yaitu :
(1) Skopograph simplex,yang terdiri dari :
(a) Projektor
(b) Receiver
(c) Visibility Recorder
(2) Back ground brigjetness sensor “STIL BUS”
(3) RVR Computer
(4) Digit Step
7. Kalibrasi peralatan Navigasi Udara
a. Mengingat peranan
Fasilitas navigasi udara yang sangat besar dalam menunjang keselamatan penerbangan ,maka wajarlah bila mana. Tingkat ketelitian informasi yang dihasilkan oleh stasiun-stasiun navigasi udara di darat dikalibrasi secara bearkala dengan cermat.
b. Kalibrasi peralatan navigasi udara di Indonesia
Kalibrasi ini dilaksanakan oleh “Unit Flight Inspection” yang dilengkapi dengan fasilitas :
1. Laboratorium (Darat) Kalibrasi peralatan Navigasi Udara di Curug Tanggerang.
2. Pesawat-pesawat Terbang khusus Laboratorium kalibrasi. Dalam hal ini sebuah BEECHCHRAFT KING AIR-A100, Sebuah FALKON/203, (LEAR JET).

Jadwal waktu kalibrasi peralatan navigasi udara di Indonesia sesuai dengan ketentuan International ditetapkan :
1. NDB satu kali dalam setahun
2. VOR atau DME dua kali dalam setahun
3. ILS tiga kali dalam setahun
c. Aeronautikal Service
a). Komunikasi Radio Penerbangan Dinas Tetap Aeronautikal Fixed Service (AFS).
1. AFS merupakan hubungan antara tempat-tempat yang tetap dan tertentu (Poin to Poin)
2. Hubungan Poin to Poin ini,yang diperlukan oleh unit-unit keselamatan penerbangan meliputi :
i. Inter-Area Communication yaitu hubungan antara ACC/FIC/FSS dengan ACC/FIC/FSS yang berbatasan.
ii. Inter-Area Communication yaitu hubungan antara ACC/FIC/FSS dengan unit APP/ADC/AFIS yang berada di daerah.
Jenis dan Sistem Hubungan :
Ø Dari jenisnya hubungan AFS ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
· Printed Communication
· Speech (Voice) Communication
· Sistem hubungan yang digunakan berupa radio teletype (RTT) atau Telephony (RTF)
b). Komunikasi Radio Penerbangan Dinas Bergerak, Aeronautikal Mobile Service (AMS)
a. AMS adalah
Hubungan radio timbal balik pusat-pusat pengawasan Lalu Lintas Udara atau Unit-unit keselamatan penerbangan.
b. Penyediaan fasilitas AMS bertujuan
melayani kepentingan Lalu lintas Udara,karena itu perencanaan dan implementasinya disesuaikan dengan sistem dan pola pengendalian operasi LLU dengan rekomendasi dan standar ICAO serta persetujuan-persetujuan secara regional
c. Media/Sistem hubungan
1. Ada 2 macam media yang dipergunakan untuk penyediaan fasilitas AMS ini :
§ Saluran Radio Frequensi sangat tinggi VHF antara 118-135 MHz
§ Saluran Radio gelombang pendek HF antara 2-22 MHz
2. Dibandingkan dengan VHF, gelombang pendek HF lebih baik kwalitasnya,dari gangguan Statistik dan tidak dipengaruhi cuaca, namun jarak jangkauan lebih pendek.
3. Sistem hubungan yang digunakan adalah “Radio Telephone”
d. Peralatan
Jenis peralatan utama yang digunakan untuk keperluan ACC/APP/ADC/ATIS adalah :
§ Pemancar VHF
§ Penerima VHF
§ Operator Control Console/Desk
§ Alat perekam(Tape Rekorder)
Komunikasi AMS yang diselenggarakan oleh FIS, FSS disarankan untuk melayani suatu daerah tertentu :
1. MWARA (Main World Ar Route Area),untuk pelayanan penerbangan International.
2. RDARA (Regionaleand Domestic Ar Route Area),untuk pelayanan penerbangan domestic.
d. Air Traffic Serfice
1. Pengertian
Untuk keselamatan penerbangan sesuai dengan persetujuan secara Internasional dan Regional,Operasional pesawat terbang perlu diatur dan dikontrol oleh suatu unit kerja yaitu Air Traffic Service yang ditetapkan pada Area tertentu.

2. Tujuan/Sasaran
Tujuan ATS adalah:
1. Mencegah terjadinya tabrakan antara pesawat terbang.
2. Mempercepat dan menjaga alur Lalu lintas penerbangan yang telah dipesan.
3. Memberikan saran dan Informasi yang berguna demi kelancaran dan keselamatan penerbangan.
4. Mencatat dan memberikan serta membantu kepada satuan SAR apabila ada pesawat terbang yang membutuhkan SAR.
3. Pembagian pelayanan Air Traffic
Agar tercapai sasaran atau tujuan pelayanan Air Traffic dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a. Area Control Service
b. Approach Control Service
c. Aerodrome Control Service
d. The Flight Information Service
e. The Allerting Service
4. Hal-hal yang perlu di Informasikan sebagai pelayanan dan pengaturan penerbangan adalah :
1. Jenis dari penerbangan
2. Kepadatan penerbangan
3. Kondisi cuaca
4. Hal-hal lain yang berkaitan dengan penerbangan yang relevan

C. Pelayanan Bandar Udara dalam keadaan Darurat (Emergency and other services)
Rencana Bandar Udara dalam keadaan darurat. (Aerodrome Emergency Planning).
Rencana Bandar Udara dalam keadaan darurat adalah proses persiapan untuk mengatasi Bandar Udara dalam keadaan darurat yang terjadi disekitar Bandar Udara.
Dalam persiapan Bandar Udara dalam keadaan darurat menurut kenyataan yang ada harus dapat dikurangi dan menarik perhatian, terutama dalam menjaga kondisi yang tetap aman dan lancar serta memelihara operasi pesawat terbang, operasi dari pada penerbangan itu sendiri.
Prosedure untuk mengadakan koordinasi pada saat Bandar Udara dalam keadaan darurat ialah :
Ø Perlu adanya koordinasi dengan wakil-wakil perusahaan dan pelayanan lainnya di Bandar Udara.
Ø Mengadakan hubungan secara langsung dengan wakil perusahaan yang terdapat disekitar Bandar Udara serta menunjuk salah satu untuk menjadi sebagai perwakilan koordinasi.
Ø Memiliki buku petunjuk untuk menetapkan rencana Bandar Udara dalam keadaan darurat sesuai dengan “Airport Services Manuals” Part 7
Bandar Udara pada saat dalam keadaan darurat harus ditetapkan sama dan seimbang antara operasi pesawat terbang dengan aktivitas kegiatan di Bandar Udara tetap dalam kondisi aman dan terkendali.
Bandar Udara pada saat dalam keadaan darurat diharuskan mengambil langkah-langkah dan berkoordinasi tentang kejadian di sekitar Bandar Udara dengan instansi terkait.
Beberapa contoh kejadian Bandar Udara dalam keadaan darurat a.I :
1. Keadaan darurat pesawat terbang.
2. Sabotase, termasuk adanya ancaman bomb.
3. Terjadinya adanya ancaman barang-barang yang berbahaya.
4. Kebakaran dan bencana alam.
Koordinasi dan partisipasi yang harus dilakukan terhadap instansi terkait yang ada di Bandar Udara maupun instansi terkait diluar Bandar Udara pada saat Bandar Udara dalam keadaan darurat adalah sebagai berikut :
“on the Aerodrome”
ü Air traffic control unit
ü Rescue fire fighting services
ü Aerodrome administration
ü Medical and ambulance services
ü Security services
ü Polices

“off the Aerodrome”
ü Fire departments
ü Polices
ü Medical and ambulance services
ü Hospitals
ü Military
ü Harbour patrol or coast guard.





vor

VOR / ILS SYSTEM

VOR/ILS ( VHF Omni Range / Instrument Lending System ) adalah bagian dari radio navigasi System . Penggunaan VOR adalah untuk mempermudah pilot didalam menentukan bearing pesawat berdasarkan groun beocon yang ada.
ILS akan menghasilkan a short range landing approach aid, memberikan penujukan posisi pesawat terhadap failure penerbangan. ILS dibagi menjadi 3 bagian, antara lain :
1.Localizer, menghasilkan azimuth terhadap flight path ( jalur penerbangan )
2.Glideslope, menghasilkan elevation.
3.Markers, menghasilkan peninjukan jarak terhadap runway.
Frequency dari VOR dan Localizer :
a.VOR adalah
108.25 MHz, 110.80 MHz sampai dengan 111.85 MHz.
112.00 MHz sampai 117.95 MHz.
b. LOCALIZER
108.15 MHz, 109.30 MHz, 110.70 – 111.95 MHz.
c. GLIDESLOPE (G/S)
329.00 – 335.00 MHz, masing-masing frequency G/S akan berpasangan dengan sebuahfrequency LOC, dan dipilih secara otomatis pada saat frequency LOC digunakan.
d. MARKERS
Semua transmitter markers bekerja pada frequency yaitu 75 MHz, walaupun tidak ada frequency tidak ada frequency yang diterima tetapi, Receiver akan tetap bekerja.

Bagian - bagian dari VOR/ILS :

1. Navigation ( NAV ) receiver.
Dipasang disamping kiri depan dari nose equipment bay, yang terdiri dari VOR/LOC receiver, G/S receiver, Marker receiver. Semua electronical signal termasuk antenna akan melalui 3 conector ( J1,J2,J3 ) yang terletak dari belakang system. Conector-conector ini berhubungan dengan conector pada mounting tray.
2. Mounting Tray.
Mounting tray akan menghasilkan/menyediakan mounting ( bantalan ) dan interconnection untuk receiver.
3. Navigation ( NAV ) control unit.
Terletak pada bagian kanan console didepan cockpit. Control unit mempunyai Control unit mempunyai sebuah engraved front panel dengan integral illumination yang terdiri pengontrol ( controls ) dan indicator ( Penunjuk ).
a. MHz dan KHz frequency selectors.
Peoperasian Frequency diatur oleh manual adjustment, yaitu : 1.0 MHz dan 50 KHz. Secara otomatis. Pada frequency selector terdapat mode dan volume controls.
b. Mode Control. Rotary switch dari mode control terdiri dari :
- MHz selector, marker off, power dan test.
- OFF, tidak ada power pada control unit dan VOR/ILS receiver.
- POWER.
- TEST.
c. Volume Contol ( tidak digunakan ).
Volume diatur memalui audio control panel.
d. Frequency Indicator.
Terdiri dari 5 digit. Antara 3 digit dan 4 untuk menampilkan frequency yang dipilih.
4. Antenna Coupler.
5. Antenna.
- 2 VOR/LOC/GS antenna.
- MARKER antenna, dipasang di permukaan bawah belakang dari nose heading gear.


Fasilitas – fasilitas yang digunakan Sebagai berikut :
1. Front dan Rear cockpit MPD.
2. HUD, depan cockpit.
3. HUD monitor, belakang cockpit.
4. DEP ( Data Entry Panel ).
5. Set Heading dan course controls.